- Latar belakang
Sejak awal, perempuan telah memainkan peran penting dalam kemajuan Dakwah Islam. Mulai dari pengorbanan Sumayyah, hingga peran Aishah dalam penumpulan hadist
-hadist, perempuan telah berperan dalam berkembangnya dan menyebarkan dien ini.
-hadist, perempuan telah berperan dalam berkembangnya dan menyebarkan dien ini.
Sayangnya selama ini, kebangkitan Islam menderita kelemahan dalam personil Muslimah yang berkualitas, karena adanya ‘pembatasan’ kerja dakwah ke grup aktivis, dengan upaya terbatas terkait dakwah tarbiyah yang difokuskan pada wanita .
Dakwah terhadap perempuan adalah keharusan, bahkan perempuan sendiri juga terikat akan kewajiban berdakwah. Karena pada dasarnya berdakwah adalah kewajiban bagi seluruh Muslim.
Sebuah peran pasti para wanita sholehah di bidang Dakwah pada dasarnya memperkuat kerja dahwah pria. Sangat menyedihkan bahwa peran ini begitu terlalu diabaikan dan diremehkan. Dengan sifatnya sebagai selimut spiritual dan psikologis manusia, wanita dapat memainkan peran penting dalam Dakwah.
Khadijah (radiyallahu’anha) memberikan kenyamanan, bantuan, dan dukungan kepada Nabi Muhammad SAW, yang menjadikan bukti terbesar dari sangat pentingnya peran ini. Para Sahabat Nabi yang memilih meninggalkan rumah mereka untuk pergi ke tempat yang ribuan mil jauhnya demi Islam pada awal-awal penyebaran Islam di Mekkah, jugaa memiliki dukungan dari istri mereka.
Sangat sedikit wanita saat ini memahami atau menyadari peran dirinya terhadap dakwah, apalagi melaksanakannya. Seorang wanita mungkin berpikir bahwa pernikahan adalah rumah tempat istirahat dan mudah. Mereka belum menyadari bahwa pernikahan adalah titik awal perjuangan, pengorbanan, memberi dan tanggung jawab.
Peran perempuan tidak berakhir di depan pintu. Dia dapat sangat efektif dengan menjadi contoh yang baik kepada orang lain, dengan menjadi baik hati, ramah berbicara, dan perilaku ramah. Dia bisa menawarkan bantuan, dan keprihatinan berbagi serta sukacita. Dia juga dapat menggunakan semua kesempatan yang tepat untuk mendidik, membimbing orang lain.
B.Rumusan masalah
1.peranan wanita sholehah dalam berda’wah
2.kelebihan dan kekurangan wanita dalam berda’wah
- hal yang harus diperhatikan seorang muslimah dalam berda’wah
4.teladan wanita sholehah dalam berda’wah
BAB II
PEMBAHASAN
- PERAN MUSLIMAH DALAM DAKWAH
Begitu banyak peran muslimah dalam kehidupan. Ia harus sigap terhadap tantangan dakwah ke depan dan mengambil peran sebagai mujahidah dakwah, menjaga kehormatan diri (iffah), berbagi ilmu dengan saudarinya yang lain, meningkatkan tsaqofah dan kafaahnya, bersosialisasi dalam dakwah di masyarakat dan mempersiapkan peran-peran lainnya. Setelah menikah, ia mendidik generasi penerus risalah Nabi, dan tetap berperan sebagai da’iyah di rumah dan lingkungan sekitarnya. Tentunya hal itu dilakukan dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan menunaikan segala hak-hak Allah yang diwajibkan kepadanya.
Adapun beberapa peran seorang musliamh dalam dakwah diatnaranya yaitu :
- Sebagai Hamba Allah.
Tugas dakwah merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah dimana untuk melaksanakannya diperlukan persiapan yang serius seperti tertulis dalam surat Al Muzamil ayat 1-8 dan surat Ali Imran 104. Apalagi para da’i merupakan kaum elit pilihan Allah sebagaimana termaktub dalam Surat Al Fusilat ayat 33.
Selain itu ketaatan kepada Allah akan menjadi teladan atau dakwah bil hal kita bagi masyarakat maupun mad’u. Bahkan menjadi seorang da’iyah maka berarti dia telah mengambil peran untuk memperindah Islam. Masha Allah.
- Sebagai Anak.
Ada beberapa tugas yang harus dijalankan seorang muslimah dalam posisinya sebagai anak. Yaitu taat kepada orang tua (17:18), berbakti (4:36), memberi nafkah (2:215), menyampaikan nasehat (19:45), mendoakan (17:24) dan memelihara kehormatan mereka (31:15).
- Sebagai Seorang Istri.
Sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslimah untuk taat kepada suami (4:34), menjaga kehormatan suami (4:34), mendukung tugas dakwah suami, mengingatkan dalam ketaatan kepada Allah. Dalam hal ini, kisah ibunda Cut Nyak Din, patut menjadi sebuah inspirasi seorang istri yang terus mensupport perjuangan suaminya dalam melawan penjajah dan menjaga izzah Islam di bumi Aceh. Bahkan setelah Teuku Umar meninggal beliau tetap meneruskan perjuangan suaminya hingga akhir hayat.
- Sebagai Ibu.
Kaum hawa dengan segala potensi yang telah diberikan oleh Allah, memiliki kelebihan yang tidak dimliki oleh kaum adam. Tugas yang melekat dalam dirinya adalah mengandung, melahirkan, menyusui, memelihara dan mendidik anak dan menjadi teladan dalam taat kepada Allah.
- Sebagai Anggota Masyarakat.
Pekerjaan para wanita Muslim di bidang Dakwah pada dasarnya memperkuat kerja dahwah pria.
Ada beberapa ciri atau karakteristik muslimah sholihah yang muslihah. Diantaranya yaitu kepribadian yang kuat, keberanian dan kepercayaan diri, berfikir rasional dan tertata, memiliki kemampuan intelektual yang baik, kritis, mampu mengevaluasi, membangun, menghadapi tantangan dan memilih, serta mandiri. Intinya Muslimah sholihah yang mushlihah memiliki semangat dan kemauan yang kuat (Quwatul Iradah) dalam beribadah dan memperbaiki diri, mampu mengarahkan perasaan dan tujuannya hanya untuk Allah, konsisten di jalan dakwah, taat pada qiyadah, imunitas yang tinggi, memiliki kepribadian yang baik sehingga mampu menjadi tauladan, serta memiliki kemampuan emosional, intelektual dan spiritual yang seimbang.
SYARAT MUSLIMAH TERJUN KE DALAM DAKWAH PUBLIK
Peran mereka didasarkan pada maslahat yang riil dan kebutuhan yang mendesak dengan tentunya tetap memperhatikan nilai-nilai syari’at Islam, yaitu diantaranya adalah :
1) Terjaganya fitrah dan tugas asasi sebagai Muslimah dalam rumah tangganya demi terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah, warohmah.
وَمِنْآيَاتِهِأَنْخَلَقَلَكُمْمِنْأَنْفُسِكُمْأَزْوَاجًالِتَسْكُنُواإِلَيْهَاوَجَعَلَبَيْنَكُمْمَوَدَّةًوَرَحْمَةً
إِنَّفِيذَلِكَلآيَاتٍلِقَوْمٍيَتَفَكَّرُونَ
”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untuk kalian dari anfus (jiwa-jiwa) kalian sendiri, azwaj (pasangan hidup), supaya kalian ber-sakinah kepadanya dan dijadikan-Nya diantara kalian mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar-Ruum : 21)
وَقَرْنَفِيبُيُوتِكُنَّوَلَاتَبَرَّجْنَتَبَرُّجَالْجَاهِلِيَّةِالْأُولَىوَأَقِمْنَالصَّلَاةَوَآَتِينَالزَّكَاةَوَأَطِعْنَاللَّهَوَرَسُولَهُ
“Menetaplah di rumah kalian ( para wanita ), dan jangan berdandan sebagaimana dandanan wanita-wanita jahiliyah. Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan patuhilah ( wahai para wanita) Allah dan rasul-Nya”
(QS.AL Ahzab:33)
Namun pada beberapa kondisi wanita diperbolehkan keluar, seperti ke Masjid. Aisyah rodhiyallahu anhu tetap keluar rumah dan ikut bergabung dalam perang Jamal sebagai reaksi untuk memenuhi kewajiban agama. Kondisi mengharuskan wanita berperan dalam bidang kehidupan seperti sekolah, perguruan tinggi, perawat, bidan, dab sebagainya, dengan beberapa syarat yang harus terpenuhi.
“Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan terhadap anaknya dan dia bertanggung jawab atas mereka.” (HR. Muslim)
2) Tetap menjaga adab-adab Syar’i
- Ghodhul Bashor (menundukkan pandangan): QS. An-Nuur: 30-31
- Komitmen dengan pakaian syar’i: QS. Al Ahzab: 59
- Iltizam (komitmen) dengan adab-adab komunikasi khususnya antara ikhwan dan akhwat
- Menghiasi diri dengan sifat malu: QS. Al Qashash: 25
3) Menghindari khalwat
Menghindari khalwat dan ikhtilat adalah tindakan preventif yang sangat dikedepankan sebelum terjadi khlawat. Namun para ulama menetapkan bahwa preventifitas yang berlibahan atau terlalu longgar, malah bisa menghilangkan sekian banyak kemaslahatan, kemudian membuka kerusakan yang justru lebih besar dan banyak, yang sebelumnya dikhawatirkan akan terjadi.
Maka yang penting adalah kehati-hatian dan pandai menjaga diri saat berinteraksi dengan laki-laki. Sebab tak bisa dipungkiri, bahwa sesuatu yang bisa menjurus kepada perbuatan haram, hukumnya haram. Hendaknya pertemuan yang dilakukan sebatas kebutuhan dan tidak mengundang fitnah serta tidak mengabaikan tugas asasinya. QS. Al Ahzab: 32-33. Kaidah fiqh: “hajat diukur sesuai dengan batas-batas kebutuhannya.” sehingga tidak boleh berlebihan
Tetap menjaga adab-adab Syar’i
- GhodhulBashor (menundukkan pandangan): QS. An-Nuur: 30-31
- Komitmen dengan pakaian syar’i: QS. Al Ahzab: 59
- Iltizam (komitmen) dengan adab-adab komunikasi khususnya antara ikhwan dan akhwat: QDS. Al Ahzab: 32
- Menghiasi diri dengan sifat malu: QS. Al Qashash: 25
3) Menghindari khalwat
Menghindari khalwat dan ikhtilat adalah tindakan preventif yang sangat dikedepankan sebelum terjadi khlawat. Namun para ulama menetapkan bahwa preventifitas yang berlibahan atau terlalu longgar, malah bisa menghilangkan sekian banyak kemaslahatan, kemudian membuka kerusakan yang justru lebih besar dan banyak, yang sebelumnya dikhawatirkan akan terjadi.
- Maka yang penting adalah kehati-hatian dan pandai menjaga diri saat berinteraksi dengan laki-laki. Sebab tak bisa dipungkiri, bahwa sesuatu yang bisa menjurus kepada perbuatan haram, hukumnya haram. Hendaknya pertemuan yang dilakukan sebatas kebutuhan dan tidak mengundang fitnah serta tidak mengabaikan tugas asasinya. QS. Al Ahzab: 32-33. Kaidah fiqh: “hajat diukur sesuai dengan batas-batas kebutuhannya.” sehingga tidak boleh berlebihan.
- Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dakwah serta istilah-istilah dalam dakwah
- Hal-hal yang harus diperhatikan dan disiapkan sebelum berdakwah yaitu :
- Bersikap lemah lembut, tidak berhati kasar, dan tidak merusak
- Menggunakan akal dan selalu dalam koridor mengingat allah
- Mengunakan bahasa yangmudah dimengerti
- Materi harus bersumber dari al-qur’an dan hadis
- Mengutamakan musyawarah dan diskusi untuk memperoleh kesepakatan
- Menyampaikan dengan ikhlas dan sabar dan tidak menghasut orang lain.
- Dalam penyampaian dakwah seorang dai harus memiliki sifat-sifat yang khas, dengna sifat yang khas ini maka materi dakwah dapat tersampaikan dengan mudah dan dapat menarik perhatian bagi umat manusia.
- Adapun sifat-sifat yang harus dimiliki oleh para da’i adalah :
- Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dakwah serta istilah-istilah dalam dakwah
- Berakhlak mulia – berakhlak mulia yaitu perbuatannya selalu mengikuti tuntunan ajaran islam dan tidak selalu menyimpang
- Amanah – amanah yaitu segala perbuatannya maupun tindakannya dapat dipercaya dan dipertanggung jawabkan
- Sidik – sidik yaitu mempunyai sikap jujur dalam kehidupan sehari-hari
- Ikhlas – ikhlas yaitu melakukan dakwah dipakai untuk seluruh umat manusia di dunia
- Sabar – sabar yaitu selalu siap dalam medapatkan halangan maupaun rintangan
- Siqah – siqah yaitu memiliki iman dan takwa kepada allah.Swt
- Wai’yi – wai’yi (peka) – yaitu meiliki kepekaan kepada agama, sosial, budaya, dan politik sehingga tidak ketinggalan perkembagan dan ilmu pengetahuan.
- #istilah – istilah dalam dakwah
- Dalam dakwah kita akan mengenal beberapa istilah yang memiliki sesuatu yang sama. Adapun istilah-istilah sebagaiberikut :
Tarbiyah – tarbiyah yaitu usaha menumbuhkan dan mengambangkan potensi yang dimiliki oleh umat muslim
Mauziah – mauziah yaitu memberikan pelajaran islamiyah kepada seseorang yang masih berbuat dosa agar mau bertobat dijalan-nya dengan menggunakan cara-cara yang baik (Q.S An-nahl (16) : 125)
Tauziah – tauziah yaitu wasiat atau saran yang diberikan kepada orang lain agar dapat mau menjalankan perintah – perintah allahsawt dan menjauhi larangan-nya (Q.S Al-Asr (103) : 1-3)
Tazkir – tazkir yaitu mengigatkan keluarganya agar dapat menghindarkan diri dari api neraka dengan senantiasa dapat berintropeksi diri dan ingat kepada allah. Swt dengan jalan bertaubat kepadanya (Q.S Al-ala (87) : 9)
Amal maruf nahi munkar – amal maruf nahi munkar yaitu menyerupakan yang baik danmencegah akan keburukan dan kemunkaran (Q.S Ali-imran (3) : 104)
Tabsyir – tabsyir yaitu kabar yang gembira yang diberikan kepada umat manusia yang beriman kepada allah swt.
Tanzir – tanzir yaitu peringatan atau ancaman bagi mereka yang durhaka ( Q.S Al-baqarah (2) : 119)
- Teladan Wanita Shalehah Dalam Berdakwah
Teladan yaitu sesuatu hal yang harus diteladani atau sesuatu hal yang baik yang harus kita tiru untuk menjadikan kita menjadi lebih baik lagi . Wanita Shalehah dalam berdakwah adalah sosok seorang wanita yang membantu perjuangan Dakwah Islam atau menyebarkan Agama Islam . Dakwah tersebut bertujuan untuk mempersatukan umat Islam dan merubah umat Islam manjadi lebih baik lagi serta mengajak Umat Islam untuk berbuat sesuai dengan Ajaran Islam dan Menjauhi Larangannya .
Sebagian orang meremehkan kaum wanita dalam Berdakwah . Padahal wanita salaf telah mengukir teladan terbaik dalam Amar Ma’ruf Nahi Mungkar yang tidak pernah dilakukan oleh wanita pada umat manapun sepanjang zaman . Sebab generasi sahabat adalah sebaik – baik umat secara umum maupun secara khusus , baik dalam keimanan , ketaqwaan , kesabaran , keikhlasan , hijrah , jihad , dakwah , ibadah , dan lainnya .
Mereka melakukan nasehat kapan saja dan dimana saja . Para wanita salaf melakukan dakwah kepada para kerabat , teman , kenalan , perorangan maupun kelompok masyarakat , baik dari rakyat biasa ataupun kepada para ulama dan para penguasa yang dekat ataupun yang jauh tanpa terhalang olehnya kekerabatan , persahabatan , ataupun hubungan apapun dan juga tidak terhalang karena keilmuan dan ketinggian kedudukan seseorang .
- Tokoh – Tokoh Wanita Shalehah Dalam Berdakwah
- Khadijah Binti Khuwaylid
Diantara tokoh – tokoh wanita Islam , Siti Khadijah merupakan wanita yang memiliki perjuangan luar biasa terhadap perkembangan Islam . Siti Khadijah telah memberikan dukungan luar biasa terhadap Rasulullah pada masa awal – awal kenabiannya . Tak hanya dukungan moril saja . Sebagai wanita yang kaya raya , Siti Khadijah juga menafkahkan hartanya untuk perjuangan Dakwah Islam . Beliau juga dikenal sebagai wanita yang pertama kali masuk Islam . Sebaga istri , Khadijah adalah contoh dari seorang istri . Bahkan seorang Siti Aisyah ( Istri Rasulullah ) pun mengaku cemburu terhadap Siti Khadijah .
- Sumayyah Binti Khayyat
Sumayyah cukup dikenal sebagai tokoh wanita yang diakui jihadnya . Beliau adalah wanita yang pertama kali syahid di Jalan Allah SWT . Sumayyah dan suaminya Yassir menolak permintaan kaum Quraisy untuk meninggalkan Islam . Akibat dari penolakannya tersebut Sumayyah dibunuh dengan tombak oleh kaum kafir .
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Kesimpulan yang bisa kita ambil dari makalah diatas adalah Perempuan Muslimah dalam Berdakwah yaitu seseorang wanita yang tidak hanya berdakwah kepada Umat Islam , Namun juga membantu dalam perjuangan Dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan Para Sahabat dari zaman dahulu sampai sekarang . Tokoh – tokoh Perempuan Muslimah yang membuantu dalam perjuangan dakwah yaitu Siti Khadijah , Sumayyah dan lain sebagainya . Jadi Dakwah sendiri tidak hanya laki – laki saja yang melakukannya namun perempuan juga bisa .
Daftar Pustaka
Zainudin, Ahmad. 2000. Wanita muslimah. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.




Komentar
Posting Komentar